Portal Berita Al-Kalam

Doa dan Zikir Akbar Sambut Milad ke-57 UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe

Foto: Putri Ruqaiyah Dalam rangka menyambut Milad ke-57, Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe menggelar keg...

HEADLINE

Latest Post

04 Juni 2026

Doa dan Zikir Akbar Sambut Milad ke-57 UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe

Foto: Putri Ruqaiyah
Dalam rangka menyambut Milad ke-57, Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe menggelar kegiatan Doa dan Zikir Akbar di Gedung Serbaguna pada Kamis (04/06/2026).

Kegiatan yang mengusung tema “Merawat Keunggulan, Menyalakan Peradaban” tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan Milad ke-57 UIN SUNA. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh aparatur sipil negara (ASN), dosen, tenaga kependidikan, serta mahasiswa di lingkungan UIN SUNA.

Kegiatan dimulai pukul 09.00 WIB dan diawali dengan pembukaan oleh pembawa acara (MC), kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an. Selanjutnya, Darmasi selaku Wakil Rektor (Warek) III UIN SUNA menyampaikan sambutan sebelum acara dilanjutkan dengan sambutan sekaligus pembukaan resmi kegiatan oleh Rektor UIN SUNA.

Dalam sambutannya, Danial sebagai Rektor UIN SUNA menyampaikan harapannya agar seluruh rangkaian kegiatan Milad ke-57 dapat berlangsung dengan baik dan lancar. “Saya berharap seluruh kegiatan dalam rangka Milad ke-57 ini dapat berjalan dengan lancar, termasuk berbagai kegiatan yang menyertai perayaan milad tahun ini,” ujarnya.

Ia juga mengajak seluruh dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa untuk berpartisipasi aktif dalam memeriahkan setiap kegiatan yang telah direncanakan. “Saya juga berharap bapak, ibu, serta mahasiswa dapat bersama-sama meramaikan dan memberikan ilmu serta masukan terbaik dalam kegiatan ini. Meskipun sederhana, saya berharap kegiatan ini tetap memberikan makna dan ilmu yang bermanfaat bagi seluruh peserta,” tambahnya.

Setelah sambutan dan pembukaan resmi oleh rektor, kegiatan dilanjutkan dengan pelaksanaan zikir dan doa bersama yang diikuti oleh seluruh peserta dengan penuh khidmat. Kegiatan tersebut menjadi penutup rangkaian acara pada hari itu sekaligus menandai dimulainya rangkaian peringatan Milad ke-57 UIN SUNA.

Berbagai kegiatan telah disiapkan untuk memeriahkan milad tahun ini, di antaranya ziarah, gotong royong, berbagai perlombaan olahraga, bedah buku, seminar, khataman Al-Qur’an, pemberian penghargaan kepada ASN dan dosen, serta jalan santai. Seluruh rangkaian kegiatan tersebut akan berlangsung hingga 12 Juni 2026, yang merupakan tanggal resmi berdirinya UIN SUNA.


Penulis: Chalisa Najla Safira

Editor: Redaksi

03 Juni 2026

Pante Bahagia Tetap Ramai Dikunjungi Meski Libur Lebaran Telah Usai

Foto: IST
www.lpmalkalam.com- Objek wisata Pante Bahagia yang berlokasi di Gampong Blang Pante, Kecamatan Paya Bakong, Kabupaten Aceh Utara, masih ramai dikunjungi wisatawan meskipun masa libur Lebaran telah usai pada Rabu (03/06/2026).

Berdasarkan pantauan di lokasi, sejumlah wisatawan tampak datang bersama keluarga dan kerabat untuk menikmati suasana alam serta kejernihan air sungai yang menjadi daya tarik utama kawasan wisata tersebut.

Keramaian terlihat dari banyaknya pengunjung yang bermain air di sungai serta padatnya area parkir kendaraan roda dua dan roda empat. Tidak hanya berasal dari Aceh Utara, sejumlah pengunjung juga datang dari berbagai daerah untuk menghabiskan waktu libur akhir pekan di destinasi wisata yang tengah populer tersebut.

Ramainya kunjungan wisatawan turut memberikan dampak positif bagi para pedagang di sekitar kawasan wisata. Mereka mengaku mengalami peningkatan pendapatan dari penjualan makanan dan minuman serta penyewaan perlengkapan wisata, seperti perahu karet yang digunakan pengunjung untuk menikmati wahana air.

Salah seorang pengunjung, Molinda Yanti, menilai Pante Bahagia memiliki potensi wisata yang terus berkembang dan mampu menarik minat masyarakat untuk berkunjung. “Harapan saya, Pante Bahagia semakin maju dan semakin banyak dikunjungi wisatawan karena selain menjadi tempat rekreasi, lokasi ini juga menjadi sumber mata pencaharian bagi masyarakat sekitar,” ujar Molinda Yanti.


Penulis: Rozatun Navais

Editor: Zahratul

Aku

Foto: Pixabay
www.lpmalkalam.com-

Aku

Aku ini siapa?

Aku datang dari mana?


Aku

hanyalah seorang hamba

seluruh tubuhku berlumuran dosa


Aku

jua sosok yang hina

yang mendamba surga

tanpa ingat siapa diriku sebenarnya


Aku, aku, dan aku

Hanya ciptaan Tuhan semata

makhluk-Nya yang paling pelupa

dengan amal yang tak seberapa

namun enggan dekat pada neraka


Aku

sekali lagi berkata

bahwa aku mendamba surga

Walau diri ini terus bertanya

siapakah sebenarnya aku?


Penulis: Luthfiatil Syaqirah 

Editor: Putri Ruqaiyah

01 Juni 2026

Siswa SD Negeri 10 Linge Masih Belajar di Tenda Darurat Enam Bulan Pascabencana

Foto: Julia Sabela

www.lpmalkalam.com- Sejumlah siswa Sekolah Dasar (SD) Negeri 10 Linge di Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah masih mengikuti kegiatan belajar mengajar di tenda darurat pada Jumat (30/5/2026).

Kondisi tersebut terjadi setelah bangunan sekolah mengalami kerusakan akibat banjir dan longsor yang melanda wilayah tersebut sekitar enam bulan lalu. Akibatnya, kegiatan belajar mengajar terpaksa dipindahkan ke tenda darurat yang digunakan sebagai ruang kelas sementara. Meski belajar dengan fasilitas terbatas, para siswa tetap mengikuti pembelajaran setiap hari.

Salah seorang guru SD Negeri 10 Linge, Siti Rahma, S.Pd., mengatakan bahwa para siswa tetap menunjukkan semangat belajar meskipun harus belajar di tenda darurat. Menurutnya, para siswa tetap hadir dan mengikuti pelajaran dengan baik meskipun kondisi belajar belum memadai.

Ia berharap fasilitas sekolah yang rusak dapat segera diperbaiki agar proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan lebih nyaman. Selain itu, para guru terus berupaya memberikan materi pembelajaran agar siswa tidak tertinggal selama masa pemulihan pascabencana.

Hingga kini, tenda darurat masih digunakan sebagai tempat belajar sementara bagi para siswa. Pemerintah daerah masih mengupayakan pemulihan fasilitas pendidikan yang terdampak banjir dan longsor.

Nurhayati, warga yang tinggal di sekitar sekolah, berharap pemerintah segera mempercepat pembangunan kembali gedung sekolah yang rusak. "Kami sedih melihat anak-anak masih harus belajar di tenda darurat setelah berbulan-bulan. Semoga pembangunan sekolah segera dilakukan supaya mereka bisa belajar dengan aman dan nyaman," katanya.


Penulis: Julia Sabela

Editor: Zahratul

Sebilah Cinta di Hari Kurban

Foto: Pexels

www.lpmalkalam.com- Hari Raya Iduladha bukan sekadar ritual penyembelihan hewan. Ia adalah cermin batin yang memaksa kita bertanya apa yang benar-benar kita pegang erat, dan apakah kita sanggup melepaskannya ketika Allah meminta?

Setiap tahun, di halaman rumah dan lapangan masjid kampung, pisau diasah dan takbir dikumandangkan. Kita menyaksikan proses itu dengan tenang, seolah maknanya sudah kita mengerti sejak kecil. Padahal, mungkin selama ini kita hanya melihat hewan yang disembelih, bukan pergulatan batin Ibrahim.

Nabi Ibrahim bukanlah manusia yang tidak memiliki perasaan. Justru sebaliknya, ia adalah seorang ayah yang sangat mencintai putranya, Ismail, yang lahir setelah penantian panjang. Maka, langkahnya menuju Mina bukanlah langkah yang ringan. Bebannya lebih berat daripada setiap batu yang diinjaknya di bukit itu. Kisah ini bukan tentang ketidakpedulian, melainkan tentang cinta yang begitu dalam hingga sanggup dikalahkan oleh kepatuhan.

Di sinilah letak salah paham yang sering kita bawa. Kita mengira bahwa orang yang berkorban adalah orang yang tidak mencintai apa yang ia korbankan. Padahal, yang benar justru sebaliknya. Pengorbanan yang sejati hanya mungkin lahir dari cinta yang nyata. Bila tidak ada kecintaan, tidak ada yang namanya pengorbanan. Yang ada hanyalah pelepasan biasa.

Pertanyaannya bukan soal hewan mana yang kita sembelih hari ini. Tetapi apa yang masih kita genggam terlalu erat? Nama seseorang yang sudah seharusnya kita ikhlaskan? Rencana lama yang terus kita pertahankan, bukan karena masih baik bagi kita, melainkan karena kita takut mengakui bahwa jalan lain telah lama terbuka, sementara kita memilih menutup mata terhadapnya?

Iduladha mengajarkan bahwa keikhlasan bukanlah ketidakpedulian. Tangan yang gemetar namun tetap membuka genggaman justru lebih mulia daripada tangan yang melepas sesuatu yang memang tidak pernah dicintai. Kesunyian terberat bukan terletak pada pisau yang jatuh, melainkan pada keputusan di dalam dada sebelum pisau itu diangkat.

Takbir masih bergema, dan mungkin ia bukan hanya untuk merayakan ketaatan Ibrahim ribuan tahun lalu. Ia juga hadir untuk menguatkan kita yang hari ini masih berdiri di lapangan yang sama, membawa beban yang tidak terlihat, dan berjuang mempelajari satu hal paling sulit dalam hidup adalah melepaskan karena cinta, bukan karena tidak peduli.


Penulis: Cut Saputri

Editor: Chalisa Najla Safira

30 Mei 2026

Sampai Mana Batas Sebuah Candaan?

Foto: Pixabay

www.lpmalkalam.com- Pernahkah kamu merasa tersinggung oleh candaan teman, lalu ditertawakan oleh banyak orang karena lelucon yang menurutmu menyinggung, tetapi justru dianggap “baperan”? Atau pernahkah kamu melontarkan candaan yang menurutmu lucu, tetapi ternyata membuat orang lain terdiam dan menjauh dengan raut wajah yang berubah seketika?

Belakangan ini, pembahasan tentang batas gurauan semakin sering muncul, terutama di media sosial dan dalam pergaulan sehari-hari. Banyak orang menutup argumen mereka dengan dalih gurauan, seolah-olah hal itu menjadi pembenaran atas segala ucapan. Batas antara bercanda dan menghina pun semakin tipis. Tidak sedikit yang berlindung di balik kalimat “kan cuma bercanda”, padahal kata-kata yang diucapkan bisa saja melukai perasaan orang lain.

Dalam sebuah unggahan akun @mudahbergaul, Dimas Alwin, S.Psi., menulis kalimat tegas, “Stop normalisasi bercanda dan malah bilang orang lain yang baperan!” Kalimat sederhana tersebut menyindir kebiasaan sebagian masyarakat yang kerap meremehkan perasaan orang lain dengan dalih “hanya bercanda”. Padahal, tidak semua orang memiliki batas kenyamanan yang sama dalam menerima candaan. Unggahan itu menjadi pengingat bahwa sebelum menilai orang lain terlalu sensitif, mungkin kita perlu terlebih dahulu mengukur kepekaan diri sendiri.

Di lingkungan kampus, candaan sering muncul sebagai bentuk keakraban. Namun, tidak semua candaan pantas dilontarkan. Lelucon tentang fisik, latar belakang keluarga, atau pengalaman pribadi dapat meninggalkan luka yang tidak terlihat. Bahkan, korbannya bisa membawa beban tersebut jauh setelah tawa berhenti. Karena itu, empati dan kesadaran sosial menjadi kunci untuk menciptakan lingkungan komunikasi yang sehat dan saling menghargai.

Bercanda bukan sekadar perkara benar atau salah, melainkan soal memahami tempat, waktu, dan perasaan orang lain. Cara kita memilih dan menyampaikan kata-kata akan menentukan apakah candaan itu menghadirkan tawa atau justru meninggalkan luka. Menghargai perasaan orang lain bukanlah bentuk sikap “baper”, melainkan bukti bahwa kita memahami sisi manusiawi dalam berkomunikasi.

Mungkin sudah saatnya kita berhenti menjadikan kata “baper” sebagai ejekan. Sebaliknya, anggaplah istilah itu sebagai pengingat bahwa setiap orang memiliki batas yang berbeda dalam menerima candaan. Sebab, dunia tidak kekurangan orang yang pandai melucu. Yang kita butuhkan adalah lebih banyak orang yang tahu kapan harus berbicara dan kapan harus diam.


Penulis: Amanda Zuhra 

Editor: Chalisa Najla Safira

Catatan Kaki Perjuangan

Foto: Zahratul
www.lpmalkalam.com-

Di lembar-lembar makalah yang mulai lusuh

Kutemukan jejak tinta yang menggigil lelah

Ada coretan, ada silang merah

Dan tak jarang, sisa air mata yang diam-diam luruh


Di sana juga tertempel sisa-sisa semangat

Tak terlihat, tapi melekat

Hanya mataku yang mampu membaca luka-luka itu

Sebab mata lain terlalu sibuk menilai angka


Kucari inspirasi dalam debu buku-buku tua

Kubuka lembar-lembar baru yang masih wangi tinta

Kubaca bait demi bait

Mengejar pemikiran di antara catatan kaki


Wahai referensi

Bisakah sekali saja kau lahir dari hatiku

Bukan dari halaman yang dipaksakan


Agar nanti kukatakan pada dosen

“Bu, biarkan ini jadi ilham

Jangan lagi pulpenmu menyilang harapanku.”


Tapi apalah daya

Setelah semua ilham kutawarkan

Dunia ini masih menuntut dengan mata dingin


Kini aku mahasiswa

Sedang bertarung melawan malas, pesimis

Dan takdir yang menulis

Aku sebagai pengangguran

Setelah keluar dari gedung penuh janji ini

Tak kubiarkan kata-kata itu tumbuh jadi akar di benakku


Demi bara semangat yang kutemukan

Dari doa ayah dan ibu di kampung nun jauh di mata

Mereka hanya punya sepetak ladang

Namun cukup luas untuk menanam harapan

Mengantarkanku hingga ke bangku kuliah ini


Di antara inspirasi yang tercerai

Semangat yang nyaris habis

Kutitipkan harap

Semoga Allah berkenan

Memberkahi tiap jengkal perjuangan ini


Penulis: Zahratul

Editor: Chalisa Najla Safira

28 Mei 2026

Kurban 2026 UIN SUNA Salur 100 Paket untuk Korban Banjir

Foto: Wahyu Ramadan 

www.lpmalkalam.com- Dalam rangka memperingati Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe menyelenggarakan kurban 2026 di depan Gedung Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) pada kamis (28/05/2026).

Dalam merealisasikan kegiatan ini, pengumpulan dana kurban dilakukan dalam bentuk arisan dengan pembagian dana sebesar Rp2.100.000 /orang, yang dapat diangsur selama 12 bulan. Hasil pengumpulan dana sejak Juni 2025 mendekati waktu pelaksanaan pada tahun ini, mendapatkan sebanyak 14 ekor hewan kurban dengan pembagian; 4 kambing, 4 lembu, dan 6 domba. Daging-daging qurban tersebut akan disembelih dan diplastikan untuk kemudian dibagikan. 

Nur Anwar selalu ketua panitia menyampaikan bahwa penerima daging kurban diklasifikasikan pada 1/3 bagian untuk shahibul kurban, pegawai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu, pegawai Non- Aparatur Sipil Negara (ASN), pekerja, warga sekitar, 100 paket untuk korban banjir di Tumpok Teungoh, dan mahasiswa yang tidak pulang kampung. Ia juga menegaskan bahwa pelaksanaan kurban bukanlah suatu kewajiban, hanya saja 

“Semoga berjalan dengan lancar, penuh berkah sehingga membawa kebaikan bagi shahibul kurban dan juga untuk kampus tercinta kita dan semoga kedepan lebih banyak lagi warga kampus yang berqurban di kampus tercinta kita,” ujarnya.

Foto: Wahyu Ramadan 

Muhammad Nasir selaku Geuchik gampong Tumpok Teungoh, yang menerima bantuan kurban langsung dengan Rektor UIN SUNA (Danial) sebagai simbolisasi. Ia menyampaikan bahwa distribusi pada warga akan dilakukan dengan pembagian kupon guna meminimalisir warga luar gampong mengambil daging kurban. Ia juga menyampaikan harapannya mewakili masyarakat gampong kepada kampus UIN SUNA Lhokseumawe. 

“Semoga ke depan ini mungkin ada lebih dari 100. Kami berdoa selalu semoga kampus ini bisa lebih maju sebagaimana yang kita harapkan ke depan nanti kampus ini. Alhamdulillah, berkat doa-doa dari pada warga kami yang menerima kurban ini, kampus ini akan lebih maju ke depan nanti," harapnya.


Penulis: Wahyu Ramadan

Editor: Redaks

27 Mei 2026

Waktu yang Perlu Dijeda

 

Foto: Pixabay 

www.lpmalkalam.com- Pada malam hari raya, sudah menjadi kebiasaan bagi seseorang untuk berkumpul bersama orang-orang tersayang. Rini, seorang gadis yang ingin bercengkerama dan menghabiskan banyak waktu bersama keluarga, kini harus menghadapi realita yang menuntutnya memikul berbagai tanggung jawab, terutama sebagai pelajar. Tugas demi tugas, deadline demi deadline, datang silih berganti tanpa henti.

Suatu waktu di kampung, Mbah Aniah datang menghampirinya seraya berkata.

“Kamu mau kan bermalam di sini?”

“Lihat dulu, Mbah,” ucap Rini sambil tersenyum.

Awalnya, Rini tidak terlalu menghiraukan pertanyaan itu. Ia mengira ucapan tersebut hanyalah basa-basi. Padahal, wajar jika neneknya menanyakan hal seperti itu, mengingat Rini adalah salah satu cucu yang jarang pulang, dan kalau pun pulang hanya pada hari-hari besar saja. Sementara itu, pikirannya terus dipenuhi berbagai hal yang tidak kunjung usai.

Beberapa jam kemudian, Mbah Aniah kembali menghampiri Rini dengan pertanyaan yang sama.
“Kamu mau kan bermalam di sini?”

Rini tertegun sambil menatap raut wajah neneknya yang tampak sedih sekaligus penuh harap. Rasanya tak tega melihat perempuan tua itu berdiri menanti jawaban dari cucu yang begitu ia sayangi. Di sisi lain, jantung Rini berdebar, pikirannya berputar, dan rasa bingung membuatnya hanya mampu terdiam sesaat.

“Kapan lagi kamu mau bermalam di sini? Padahal cuma setahun sekali,” sahut Mbah Aniah pelan.

Setelah mendengar hal itu, Rini menyadari bahwa pertanyaan tersebut ternyata memiliki makna yang selama ini gagal ia pahami. Resah, sangat resah. Seolah terjadi pergulatan batin antara keinginan untuk berkumpul bersama keluarga dan tuntutan untuk menyelesaikan tanggung jawabnya.

Namun, Rini teringat pesan ibunya yang pernah berkata bahwa jika ada kesempatan untuk berkumpul dengan orang tersayang, terutama dengan Mbah, maka lakukanlah. Jika tidak, pasti akan ada rasa sedih yang tertinggal. Apa yang dikatakan ibunya terasa benar. Meski begitu, Rini merasa ia tetap harus mencari cara agar dapat memanfaatkan waktunya sebaik mungkin demi menjalankan keduanya.

“Apa aku bermalam dua hari saja, ya? Kayaknya bisa,” gumamnya.

“Baiklah, Mbah,” ucap Rini akhirnya. Mbah Aniah pun tersenyum bahagia.

Jika dipikir-pikir, memang ada waktunya seseorang perlu menjeda diri dari segala aktivitas yang selama ini dijalani. Keluarga adalah tempat beristirahat dari penatnya kehidupan, agar hati tidak lelah dan ikatan kasih tetap tumbuh kuat. Dua hari mungkin terasa singkat, tetapi bisa menjadi sangat bermakna jika dimanfaatkan dengan baik.

Pada akhirnya, sekeras apa pun dunia, keluarga tetap menjadi tempat kita berpulang. Di sanalah cinta dan kasih selalu menunggu. Di tengah waktu yang terus berputar dan padatnya aktivitas, sudah sepatutnya kita meluangkan sedikit ruang untuk orang-orang tercinta. Sebab, terkadang yang mereka butuhkan bukan sekadar hangatnya sapaan atau panjangnya percakapan, melainkan kehadiran dan kebersamaan.


Penulis: Rizky Ramadhani 

Editor: Zahratul

26 Mei 2026

Meugang: Bukan Sekadar Daging, tetapi Warisan Budaya

Foto: Pixels

www.lpmalkalam.com- Meugang, dalam masyarakat Aceh, dikenal sebagai hari yang dipenuhi oleh daging. Sebenarnya, tradisi ini bukan sekadar tentang daging, melainkan tradisi turun-temurun di Aceh ketika seluruh masyarakat memasak dan menghidangkan daging untuk keluarga mereka. Meugang biasanya berlangsung dua hari sebelum Lebaran Idul Fitri dan Idul Adha. Masyarakat menyebutnya sebagai meugang kecil (dua hari sebelum Lebaran) dan meugang besar (satu hari sebelum Lebaran).

Tradisi ini telah diwariskan dari generasi ke generasi dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Aceh. Menurut masyarakat Aceh, daging yang dihidangkan merupakan bentuk rasa syukur sekaligus simbol kebersamaan dalam kehidupan sosial. Dahulu, pada masa Kesultanan Aceh di bawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda, hewan ternak seperti sapi, kambing, kerbau, dan hewan ternak lainnya disembelih untuk dibagikan kepada fakir miskin dan anak yatim. Hal tersebut menjadi bukti bahwa tradisi meugang sangat lekat dengan nilai keberkahan dan kepedulian sosial.

Setiap sudut kota maupun desa di Aceh merayakan hari besar ini. Meskipun terdapat sedikit perbedaan di beberapa daerah, tradisi meugang tetap memiliki makna yang sama bagi seluruh masyarakat Aceh. Menjelang hari meugang, masyarakat Aceh sangat antusias menyiapkan berbagai hewan ternak untuk diperjual belikan demi terciptanya pemerataan ekonomi. Ketika hari meugang tiba, banyak masyarakat dari berbagai profesi menghentikan aktivitas pekerjaan mereka untuk merayakan tradisi warisan leluhur ini.

Daging yang dibeli kemudian dimasak menjadi berbagai hidangan khas Aceh, seperti kari, kuah beulangong (gulai khas Aceh), sie reuboh (daging rebus asam pedas), dan sop daging. Uniknya, masyarakat Aceh tidak pernah menganggap tradisi ini sebagai beban. Baik kalangan atas maupun bawah tetap berusaha agar keluarga mereka dapat menikmati daging pada hari meugang.


Penulis: Annisa Maulianda

Editor: Zahratul

Mengenai Saya

Foto saya
Lhokseumawe, Aceh, Indonesia
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al – Kalam adalah salah satu lembaga pers mahasiswa guna mengembangkan bakat jurnalis muda yang berada di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe.

Redaksi Al-Kalam

Nama

Email *

Pesan *

LPM AL-Kalam UIN SUNA Lhokseumawe, 0812-6983-7115 (Pemimpin Redaksi) 0853-5944-2144 (Sekretaris Redaksi) Alamat:Jl. Medan Banda Aceh,Alue Awe,Kec. Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Diberdayakan oleh Blogger.